Berita Lapas

Lapas Pangkalpinang Kembangkan Budidaya Mentimun Giok, Perkuat Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

16
×

Lapas Pangkalpinang Kembangkan Budidaya Mentimun Giok, Perkuat Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Sebarkan artikel ini

Caption Foto: Warga binaan Lapas Kelas IIA Pangkalpinang merawat tanaman mentimun giok di lahan Agroedupark sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian dan ketahanan pangan.

PANGKALPINANG FAKTAKEADILAN— Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui budidaya mentimun giok (Jade Girl). Komoditas hortikultura baru ini menjadi bagian dari pengembangan Agroedupark sekaligus mendukung program ketahanan pangan di lingkungan lapas.

Budidaya mentimun giok dilakukan di lahan kegiatan kerja seluas sekitar 25 meter persegi yang dikelola warga binaan di bawah pendampingan petugas. Varietas mentimun hibrida ini dikenal produktif, memiliki tekstur renyah, tidak pahit, dan dapat dipanen dalam waktu 35 hingga 40 hari setelah tanam.

Memasuki usia tanam 25 hari, tanaman menunjukkan pertumbuhan yang baik dan diproyeksikan segera dipanen untuk memenuhi kebutuhan konsumsi internal Lapas Pangkalpinang.

Kepala Lapas Kelas IIA Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, mengatakan pengembangan mentimun giok merupakan salah satu inovasi pembinaan yang memberikan keterampilan praktis kepada warga binaan sekaligus mendukung ketahanan pangan.

“Budidaya mentimun giok membuktikan bahwa lahan terbatas tetap dapat dimanfaatkan secara produktif. Melalui pembinaan ini, warga binaan memperoleh keterampilan bertani sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan internal lapas,” ujar Sugeng, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, keberhasilan budidaya ini juga didukung penggunaan kompos Fly Ash produksi Lapas Pangkalpinang yang berasal dari limbah non-B3 sisa pembakaran batu bara. Selain meningkatkan kesuburan tanah, pemanfaatan kompos tersebut menjadi bagian dari pengelolaan limbah yang ramah lingkungan dan bernilai guna.

“Kami berharap inovasi ini terus mendukung keberhasilan program pembinaan kemandirian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Lapas Pangkalpinang,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Mulsa Afrianto, menjelaskan pemilihan mentimun giok didasarkan pada produktivitas yang tinggi, masa panen yang singkat, serta perawatan yang relatif mudah.

“Kami terus mengembangkan komoditas hortikultura yang sesuai dengan kondisi lahan di lapas. Mentimun giok dipilih karena mudah dibudidayakan, produktif, dan menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan,” jelasnya.

Salah seorang warga binaan berinisial A mengaku memperoleh pengalaman dan keterampilan baru melalui kegiatan tersebut. Ia belajar mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, pemasangan ajir, hingga perawatan tanaman.

“Selain mengisi waktu dengan kegiatan positif, saya juga belajar cara membudidayakan mentimun yang baik. Ilmu ini menjadi bekal yang ingin saya manfaatkan setelah bebas nanti,” ungkapnya.

Program budidaya mentimun giok ini diharapkan semakin memperkuat Agroedupark Kemandirian sebagai sarana pembinaan karakter, peningkatan etos kerja, serta bekal keterampilan bagi warga binaan agar lebih siap kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *